Kian bertambah saja yang mesti diurusi ataupun dipikirkan Presiden Direktur PT Metropolitan Land, Ir. Nanda Widya. Maklum, kini ia mesti mengantar Metland kembali melesat di ranah bisnis properti di Tanah Air setelah sebelumnya tersendat oleh efek krisis ekonomi global—hal yang pasti juga dialami pengembang lain di Indonesia.
Belum lagi, kini ia mesti mengantar Metland menjadi perusahaan terbuka dengan menawarkan saham ke publik. Lewat melantai di Bursa Efek Indonesia itu, Metland ingin mencapai sejumlah tujuan selain tentunya mencari dana segar nan murah. “Dengan go public, Metland ingin ada regenerasi ataupun kesinambungan karena dimiliki banyak orang. Bahkan perusahaan keluarga pun banyak yang go public agar sinambung, bukan?” ia berkata.
Satu siang di minggu pertama September tahun 2010, Nanda meluangkan waktu untuk berbincang dengan PropertyKita. Didampingi General Manager Corporate Communications PT Metropolitan Land Wahyu Sulistio, Nanda panjang lebar berbicara tentang banyak hal.
Berikut ini adalah kutipan perbincangan tersebut.
Bagaimana pertumbuhan bisnis Metland di semester pertama tahun 2010 ataupun sampai Agustus tahun yang sama?
Ada tren naik. Pertumbuhannya bagus. Semester pertama bagus. Dan semester kedua kami perkirakan lebih bagus dibandingkan semester pertama.
Kami pun berharap bahwa tahun depan lebih baik dibandingkan tahun 2010. Ini dipengaruhi beberapa syarat. Antara lain bila pertumbuhan ekonomi dunia membaik.
Lantas, bunga KPR (kredit pemilikan rumah) yang sekarang di kisaran 9%-12%, bisa lebih rendah.
Tahun 2008 itu, kan, Indonesia terkena imbas krisis dari Amerika Serikat. Walau pertumbuhan kita masih positif, namun tetap saja kita kena imbas, ‘kan?
Maka, tahun depan, saya prediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi sekitar 5%. Pemerintah sendiri, ‘kan, kalau tidak salah, memerkirakan pertumbuhan sekitar 6%-an.
Kalau pertumbuhan ekonomi stabil dan tidak ada gangguan seperti aksi bom, industri properti akan tumbuh bagus.
Tahun 2011, saya prediksikan bahwa pertumbuhan industri properti lebih baik dibandingkan di 2010.
Bagaimana perbandingan pertumbuhan bisnis Metland di semester pertama tahun 2010 dengan semester pertama di tahun 2009?
Semester pertama tahun 2009, itu pertumbuhan bisnis kami belum terlalu bagus. Itu karena efek krisis ekonomi global. Kalau dibandingkan, angka pertumbuhan di semester satu tahun 2009 itu lebih rendah 30% ketimbang di semester satu tahun 2010. Dan saya memprediksikan bahwa untuk semester kedua tahun 2010, performa bisnis Metland lebih baik 10% sampai 20% dibandingkan di semester pertama.
Tahun depan, saya prediksikan bahwa pertumbuhan tersebut 20% sampai 30% lebih baik dibandingkan di tahun 2010.
Bagaimana pula dengan pencapaian target untuk tahun ini?
Sampai saat ini target tersebut sudah terlewati. Dibandingkan tahun 2009, juga kira-kira 20% sampai 30% lebih bagus.
Ini pertumbuhan di Metland. Tiap perusahaan properti tentu berbeda-beda. Tapi saya rasa kisarannya tidak akan jauh beda dengan di Metland tersebut.
Bisa menjelaskan pertumbuhan tersebut dalam angka konkret?
Nanti kalau Metland sudah jadi public company di bulan Februari tahun 2010, baru saya menjelaskan ke Anda angka-angka tersebut, ha ha ha.
Saat ini kan Metland belum perusahaan publik. Yang jelas, dalam persentase, ya naik seperti yang tadi saya jelaskan.
Kenapa go public Metland bergeser lagi ke Februari tahun 2011? Apakah menunggu kondisi ekonomi lebih bagus lagi?
Ya, begitulah.
Semula, kami kan menargetkan go public di tahun 2008 akhir, namun ternyata kondisi ekonomi belum bagus, ‘kan. Begitu pula di tahun 2009.
Sebenarnya tahun 2010 juga sudah bagus. Namun, kami menunggu waktu yang tepat. Akhir 2010 kan banyak perusahaan yang go public.
Kalau tak salah ada lima perusahaan besar lain. Antara lain Garuda, Agung Podomoro, dan lain-lain. Maka, kami mencari waktu di mana dana publik kembali tersedia.
Berapa persen saham Metland yang dijual ke publik, apakah ada perubahan persentase dari yang semula direncanakan?
Sekitar 20% sampai 30%.
Kini bunga pasar KPR di kisaran 10% sampai 12%. Bagaimana pengaruhnya ke penjualan properti di Metland?
Pengaruhnya sangat besar. Tingkat bunga tersebut sangat kondusif.
Kita tentu tak berharap tingkat bunga KPR bisa sampai 5%-6% seperti di negara-negara lain. Tapi, 10%-12%, itu sudah oke. Daya beli masyarakat bisa menjangkau bunga dengan persentase tersebut.
Kalau sampai 24% seperti masih di tahun 1980-an, ya buying power masyarakat konsumen properti otomatis turun, kan, ha ha ha.
Kemampuan mencicil mereka, kan, menurun.
Sekarang ini, seberapa besar porsi pengguna KPR bagi konsumen properti keluaran Metland?
Mencapai 90%. Maka, tingkat suku bunga KPR yang kondusif, tentu berpengaruh positif ke pertumbuhan bisnis kami.
Walau begitu, Metland, kan, punya unit bisnis lain yang pertumbuhannya tak terpengaruh oleh tingkat bunga KPR. Antara lain, pendapatan dari mal yang kami miliki, kan, tak dipengaruhi tingkat bunga KPR.
Begitu juga pendapatan dari hotel-hotel yang kami miliki.
Perbandingan antara pendapatan dari divisi real estat dengan dari divisi komersial di Metland, kira-kira 50 banding 50.
Jadi, kalau terjadi penurunan pendapatan di salah satu divisi, secara keseluruhan, kan, masih oke-oke saja.
**********
Buat para eksekutif bisnis apalagi yang terbilang muda, berpindah-pindah tempat karir bukan hal janggal. Di masa mekanisme pasar, memang hal tersebut tak bisa dihindari. Sebagai seorang yang punya skill tinggi dan selalu haus tantangan, tak heran bila para eksekutif bisnis bagai terus bergolak. Selesai mendongkrak performa bisnis satu perusahaan, mereka hijrah ke tempat lain.
Nah, Nanda tak termasuk dalam arus tersebut. Bayangkan, sejak lulus dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia di tahun 1981, hingga kini ia berkarir di Metland.
Apa “rumus” yang digunakan sehingga ia terus-menerus berkarir di sana? “Buat saya, di satu tempat karir, selidikilah ada atau tidaknya kemungkinan mengembangkan potensi terus-menerus. Itulah kunci buat seseorang untuk bisa mengembangkan potensi diri sepenuhnya. Di sini, kalau seseorang mampu terus mengembangkan potensi, kadang imbalan finansial akan bertambah dengan sendirinya.”
Bagaimana kalau kemungkinan tersebut tidak ditemui? Jawab Nanda sambil bergurau,”Bila perlu, langsung saja tulis surat pengunduran diri dari perusahaan tersebut untuk mencari kesempatan itu di perusahaan lain.”
Buat Nanda, bukan jaminan bahwa sering berpindah tempat kerja terkait erat dengan keberhasilan seorang eksekutif. Kadang, ada pula eksekutif yang sering berpindah tempat karir belum bisa sepenuhnya mengembangkan potensi diri ataupun kemampuan terbaiknya.
Bisa saja seorang eksekutif yang loyal di satu korporasi sudah mencapai level CEO ataupun mengembangkan penuh potensi diri, sementara yang sering berpindah malah belum.
**********
Bisa menceritakan rencana ekspansi Metland secara garis besar untuk waktu-waktu dekat ini?
Untuk divisi real estat, Metland sudah dapat lahan baru lagi. Itu untuk pengembangan Metland Cibitung; luas lahan tersebut kira-kira 140 hektar.
Itu rencananya mulai kami kembangkan dan pasarkan di akhir tahun ini bila semua perizinan sudah beres.
Untuk komersial, kami ada satu lokasi lagi di Bekasi, Jawa Barat. Itu untuk gabungan mal dengan hotel.
Apakah itu satu lokasi dengan Metland Tambun?
Tidak, lain lagi. Sebuah kompleks properti terpadu di Kawasan Industri MM2100 Blok MM1.
Kami pun akan mengembangkan Mal Metropolitan 2, yang letaknya tak jauh dari Mal Metropolitan 1.
Soal hotel, kami akan menambah lagi 200-an unit kamar. Ini kebutuhan karena saat ini rata-rata tingkat hunian hotel milik Metland di angka 80%.
Saat ini, kami punya 140-an unit kamar hotel.
Kami selanjutnya juga punya rencana untuk membangun apartemen. Mungkin apartemen strata title. Itu lokasinya di Bekasi. Tepatnya mungkin di Kawasan Industri MM2100 Blok MM2.
Akan jadi sebuah kompleks properti terpadu berupa apartemen dan hotel.
Nah, di Cawang, Jakarta timur, kami akan membangun Hotel Horizon Cawang.
Ke mana segmen pasar Metland Cibitung?
Untuk tahap awal, Metland Cibitung membidik segmen menengah ke bawah. Barulah nanti bergeser ke segmen menengah. Lantas nantinya membidik segmen menengah atas juga bisa. Pola yang digunakan Metland
kan selalu begitu.
Seperti di Metland Cileungsi, Bogor, itu kami kini masuk juga ke segmen menengah setelah sebelumnya ada di segmen bawah. Jadi, semua segmen diambil.
Dana yang didapat dari go public akan kami gunakan untuk ekspansi-ekspansi tersebut.
**********
Sebagai eksekutif bisnis, Nanda mengaku tak punya hobi nan eksklusif ataupun khas. Untuk waktu senggang, ia gemar membaca. “Saya memang tak punya hobi yang aneh-aneh,” kata dia sembari tersenyum.
Terkait hobi itu, tak heran bahwa, dikepung kesibukan, Nanda menyempatkan diri menulis sebuah buku. Baru-baru ini, didampingi dua orang tim penulis (satu di antaranya General Manager Corporate Communications Metland Wahyu Sulistio), Nanda merampungkan buku berjudul Chief Entrepreneur Officer; 7 Kisah Inspiratif Pemimpin Berjiwa Entrepreneur.
Buat Nanda, di lingkup korporasi ataupun negara, mental entrepreneur sangatlah penting, sangat vital. Dengan mental itulah satu korporasi ataupun negara bisa lebih cepat mencapai titik kemajuan. “Contohnya, Singapura, kan maju cepat berkat Lee Kuan Yeuw yang punya sikap entrepreneur tinggi,” ia berkata.
Mental/sikap entrepreneur bagi Nanda tak sepenuhnya berasal dari bakat. Tapi bisa dibentuk. Lewat buku tersebut, Nanda ingin menyebarluaskan pentingnya setiap orang punya mental entrepreneur tersebut.
**********
Bisa menceritakan land bank yang kini dipunyai Metland?
Kini, land bank kami sekitar 500-600 hektar. Di enam lokasi.
Ada penilaian bahwa dalam hal akuisisi lahan, Metland terbilang konservatif.
Begitulah, ha ha ha. Kami memang konservatif dalam hal itu.
Kami memang bermain di skala 100 sampai 200 hektar. Dengan begitu, kami bisa mendapatkan lahan di lokasi-lokasi yang cukup bagus.
Kami bisa saja akuisisi dalam jumlah mencapai ribuan hektar. Tapi, sudah tentu lokasinya berbeda lagi, bukan?
Township seperti BSD City dan Citra Raya, itu kan lokasinya mesti terbilang jauh dari pusat kota ataupun bisnis.
Dengan main di skala 100 sampai 200 hektar itu, satu proyek cukup memakan waktu 10 sampai 15 tahun. Sementara, kalau ribuan hektar, itu 30 tahun baru habis.
Metland memang ingin main di banyak proyek dalam skala yang lebih kecil; kami kini punya enam proyek properti dengan skala tersebut.
Dengan pola itu, risiko bisnis lebih menyebar, bukan?
Punya enam proyek lebih kecil dalam risiko dibandingkan punya satu proyek besar.
Dalam hal ini, enam lebih baik dibandingkan satu. Tapi kalau Anda punya istri, tentu jelas bahwa satu istri lebih baik daripada enam istri, ha ha ha.
Pewawancara/Foto: Dhit