Di tulisan pertama, Principal Ray White Kelapa Gading Barat, Hengkie Husada, telah menjelaskan dua cara mendongkrak jumlah listing properti milik agen properti. Itu, antara lain, pertama, mengintensifkan upaya mendapatkan properti dari kalangan ataupun keluarga/kerabat. Kalangan itu merupakan sumber potensial yang sering dilupakan para agen properti.
Kedua, mengintensifkan “metode” canvassing (menjelajahi kawasan untuk mencari properti yang tengah dijual/disewakan oleh pemiliknya).
Nah, di tulisan kedua ini, mari kita ikuti lagi uraian Hengkie tentang cara meningkatkan listing properti.
3. Tahap berikut mendapatkan listing properti yakni dengan mengiklankan jasa di media massa. Tepatnya, dalam hal itu, agen properti memasang iklan yang isinya pemberitahuan bahwa ia tengah mencari properti yang hendak dijual ataupun disewakan.
Untuk itu, ada baiknya iklan itu terpampang di media massa cetak berskala nasional—misalnya koran beroplah besar, mencapai ratusan ribu eksemplar per hari. Sebab, dengan area cakupan yang lebih luas, media tersebut berpontensi mendatangkan respons iklan nan apik.
Di samping itu, agen properti bisa memanfaatkan situs internet properti yang punya tingkat kunjungan tinggi untuk memampangkan iklan tersebut. Keuntungan dari situs tersebut: iklan tersebut dipampangkan terus-menerus selama 24 jam. Maka, siklus hidup iklan di situ lebih panjang daripada di media cetak.
4. Cara lain, agen properti bisa menyimak iklan di berbagai media massa, mencari properti yang tengah dijual/disewakan oleh sang empunya secara langsung.
Di sini, usai mendapati iklan tersebut, agen properti mesti mengontak pihak penjual dengan cepat: menawarkan jasa untuk memerantarai penjualan/penyewaan properti tersebut.
*****
Dari empat cara tersebut, mana yang paling efektif untuk melipatgandakan jumlah listing properti?
Sesungguhnya, menurut Hengkie, yang terpenting adalah menjalankan empat cara tersebut secara intensif dan sinambung. Pun, empat cara itu sudah tentu bisa dijalankan bersamaan.
Selanjutnya, tindak lanjut dari tiap cara tersebut mesti bagus. Agen properti dalam hal ini mesti gigih, juga selalu berpikir bahwa ia akan menjalin hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Semisal, usai menyimak iklan properti yang dijual di media massa cetak, agen properti menelepon sang pemilik. Beberapa kali, pemilik tersebut sulit diajak berbicara karena sedang ada aktivitas lain seperti rapat bisnis. Dalam hal ini, agen properti mesti tekun, mesti terus menghubungi sang pemilik.
Dan jangan lupa, kalaupun saat itu sang pemilik lebih pilih mentransaksikan sendiri properti tersebut, bukan berarti pintu peluang tertutup rapat, bukan? Dengan menanamkan kepercayaan sekaligus memerkenalkan diri, agen properti berpeluang mendapatkan listing properti dari sang pemilik tersebut di kemudian hari.
Kemudian, berapakah jumlah listing yang sewajarnya dipunyai agen properti sehingga konsumen merasa puas? Begini, agen properti yang punya pengalaman satu tahun sewajarnya punya 50-an properti.
Pun, bila ia lebih intensif, sebenarnya jumlah tersebut bisa menjadi 80 sampai 100 properti.
Persediaan properti tersebut bisa diibaratkan barang dagangan di satu toko yang, setiap saat, persediaannya bisa habis bila tak cepat ditambah. Karena itu, aktivitas menambah jumlah listing mesti dilakukan sinambung sekalipun persediaan sang agen sudah di angka wajar.
Ujar Hengkie, bila empat cara mendapatkan listing properti tersebut dijalankan intensif dan sinambung, nama agen properti akan dikenal di kalangan konsumen. Alhasil, tanpa dihubungi, pemilik properti sering langsung menghubungi sang agen kala hendak menjual/menyewakan properti.
Dhit
Foto: Gettyimages/David Papazian