Buat seorang agen properti, punya persediaan properti yang cukup sehingga calon pembeli/penyewa bisa dilayani dengan baik, adalah keniscayaan. Bila tak punya listing nan berjumlah cukup, seorang agen properti bagaikan supermarket yang hanya punya sedikit barang sehingga mengecewakan konsumen.
Memang, bila satu ketika properti yang diinginkan konsumen tak tersedia, bisa saja sang agen mencarikan dari rekannya. Namun, lebih baik lagi bila yang diinginkan konsumen bisa langsung disediakan, bukan?
Bukan hal gampang, memang, untuk punya listing dalam jumlah memadai. Bagaimana cara yang tepat dan efektif untuk menggapai jumlah itu?
Principal Ray White Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Hengkie Husada, tak segan membagikan ilmu dan pengalamannya tentang hal tersebut. Menurut agen properti senior ini, ada beberapa sumber listing potensial yang perlu diperhatikan agen properti.
Apa saja sumber tersebut? Dan bagaimana mesti melangkah ke sana? Ikutilah ulasan Hengkie berikut ini.
1. Sumber pertama mendapatkan listing adalah kalangan terdekat. Ini bisa berarti keluarga inti, keluarga besar, dan teman-teman lama. Pun, rekan dari tempat kerja terdahulu bisa dikelompokkan ke situ.
Yang perlu diperhatikan, sebagian agen properti sering tak mementingkan kelompok ini. Padahal, dari kelompok ini, listing berkualitas sering muncul. Alhasil, mengontak kelompok ini perlu dilakukan intensif.
Dari kelompok ini, kalau diintensifkan, 200 sampai 500 nama bisa muncul. Dari jumlah ini, jelas terlihat bahwa potensinya bagus, bukan?
Belum lagi, bila yang menawarkan jasa perantara transaksi properti adalah seseorang yang masih terhitung kerabat ataupun rekan, kepercayaan untuk menitipkan properti yang akan dijual/disewakan lebih kuat, bukan?
2. Usai kalangan dekat, sumber listing berikutnya adalah canvassing. Setiap agen properti tentu tak asing dengan istilah ini. Tepat: canvassing adalah aktivitas mengelilingi area untuk mencari properti yang tengah dijual/disewakan oleh sang empunya tanpa jasa agen properti.
Dengan mengelilingi satu kawasan, secara kasat mata, akan terlihat jelas keberadaan properti tersebut. Usai mendapati, tanpa perlu menunda, sang agen bisa langsung mengontak dan menghubungi sang empunya.
Di sini, sang agen perlu menjelaskan dengan detail perihal keuntungan menggunakan jasa agen properti ketimbang menangani sendiri transaksi tersebut. Itu agar sang empunya lantas menitipkan properti tersebut untuk disewakan/dijual.
Bila di kawasan tersebut aktivitas canvassing sulit membuahkan hasil, apakah sang agen perlu banting setir dengan melirik kawasan lain yang terlihat lebih berpotensi menghasilkan listing?
Upaya banting setir ini tidak terlalu dianjurkan. Sebab, pengenalan kawasan lain tersebut sudah tentu tak sebaik di kawasan yang sudah dikuasai. Misal, penguasaan tentang harga pasar, nilai pasar, dan lain-lain sejenis, mungkin tak sama detail dengan di kawasan yang telah jadi langganan.
Di samping itu, kalau listing hasil canvassing di kawasan langganan tak banyak, itu bisa karena aktivitas yang dilakukan kurang intensif. Maka, upaya tersebut perlu dilakukan lebih sabar, tekun, dan intensif.
Selain keluarga/kalangan dekat serta canvassing, agen properti pun bisa menggelindingkan sejumlah cara lain menggaet listing? Apa sajakah itu? Dan bagaimana agar semua cara itu berjalan dengan baik sehingga agen properti punya listing nan banyak?
Hengkie Husada akan menjelaskan semua itu dalam lanjutan tulisan ini.
Dhit
Foto: Dhit