Mungkin sebagian Anda heran membaca di atas dan berpikir: sampah ya sampah yang tinggal dibuang, apa sih perlunya dipilah? Begini, dengan memilah sampah nan dibuang, kita sebenarnya telah bersikap ramah lingkungan.
Dalam hal itu, dengan memilah sampah menjadi kelompok organik dan non-organik, kita telah berperang mengurangi gunungan sampah dari permukaan Bumi tercinta.
Kini, marilah menelaah sejumlah poin perihal itu:
1. Satu keluarga, tanpa kita sadari, merupakan pabrik gunungan sampah nan produktif.
Tiap hari, sampah yang dihasilkan satu keluarga beranggota
Andaikanlah bahwa kini jumlah penduduk
Maka, jelas bahwa setiap keluarga bisa berperan memangkas tumpukan sampah tersebut.
2. Sampah organik berasal dari benda yang bisa diurai oleh mikroorganisme. Semisal sisa makanan, sayuran, dan dedaunan.
Adapun sampah non-organik tiada bisa diurai mikroorganisme. Semisal plastik, logam, dan kertas.
3. Data dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta pernah menyebut bahwa jumlah sampah per hari mencapai kira-kira 27.966 m3 per hari—65% terdiri dari sampah organik.
Nah, oleh sebab mayoritas sampah rumah tangga merupakan sampah organik, maka tiada salah bila kita turut memangkas jumlah sampah tersebut.
Itu dengan terlebih dulu memilah sampah menjadi dua kelompok—otomatis perlu dua tempat sampah: organik dan nonorganik.
4. Lha, lantas sampah organik yang terkumpul hendak dikemanain?
Yakni dengan mengolah sendiri sampah tersebut menjadi pupuk kompos, juga menjadi pakan ternak.
Hal itu bisa dilakukan sendiri ataupun dalam suatu komunitas (RT/rukun tetangga, RW/rukun warga, dan lain-lain).
5. Sementara, perihal sampah non-organik, ia pun bisa didaur ulang. Logam, kertas, dan plastik, bisa didaur ulang. Di sini, laskar pemulunglah nan sering berperan penting mengantar sampah non-organik ke tempat daur ulang.
Nah, bila sampah tersebut telah dipilah—tidak bercampur baur dengan sampah organik—jelas bahwa peran sang pemulung kian lancar, bukan?
Demikianlah; selamat memilah sampah rumah Anda.
Dhit/dari Berbagai Sumber
Foto: Dhit