Jual Rumah Dengan Berbagai Type Sesuai Kebutuhan Anda

|  LOGIN
  shadow header2
  shadow banner top
  shadow banner bottom

- + Tirta Setiawan: Bisnis Broker Sering Dianggap Instan oleh Pelakunya
03-01-2011 10:16:25
Dilihat : 1712 kali

Bila  di Indonesia ada broker properti yunior yang tidak mengenal nama Tirta Setiawan, barangkali bisa dikatakan janggal. Betapa tidak, pria asal Semarang (Jawa Tengah) ini merupakan salah satu inisiator utama perkembangan industri broker properti di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

 

Dua periode menjabat sebagai ketua umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), Tirta gencar merintis bergulirnya sertifikasi broker properti. Tujuan sertifikasi itu, antara lain, demi meningkatkan kualitas industri broker properti di Indonesia. Dan untuk menjamin hak konsumen mendapatkan layanan profesional dari broker properti.

 

Upaya tersebut berbuah hasil. Kini, sertifikasi itu telah berjalan kira-kira dua tahun di bawah naungan Peraturan Menteri Perdagangan No. 33/M-DAG/PER/8/2008. Dengan itu, kini perusahaan broker properti mesti punya setidaknya dua tenaga ahli yang telah lolos sertifikasi sehingga bisa mendapatkan  Surat Izin Usaha Perusahaan Perantara Perdagangan Properti (SIU-P4).

 

Kini, sebagai ketua kehormatan AREBI, Tirta terus mencermati perkembangan bisnis broker properti nasional.

 

Suatu siang di Jakarta belum lama ini, kepada Achmad Adhito dari PropertyKita.com, Tirta meluangkan waktu berbicara banyak hal perihal industri broker properti nasional. Berikut ini penggalan percakapan dengan presiden direktur Etika Realtindo itu.

 

 

Kita bisa mengatakan bahwa porsi properti yang ditransaksikan via broker properti di Indonesia belum sama dengan di negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Apa penyebab hal ini menurut Anda?

 

Pertama, bisnis broker sering dianggap bisnis instan oleh para pelaku. Ini yang menyebabkan mereka tidak bisa bertahan lama di industri tersebut. Mereka enggan belajar, dan melulu mengutamakan transaksi. Akibat hal itu, pondasi bisnis yang dibangun tidak kuat. Itu yang tidak mereka sadari. Mereka hanya mengutamakan mendapat komisi dari transaksi.

 

Profesionalitas para agen properti pun, saya rasa, belum bisa dikatakan ada di titik optimal. Ini hal yang membuat repot.

 

Pengguna jasa agen properti kini bisa dikatakan terbatas ke segmen menengah ke atas. Bagaimana Anda menilai hal ini?

 

Saya rasa, sekarang ini sudah ada perkembangan. Kini, masyarakat pun sudah mentransaksikan properti yang berharga murah. Rusunami (rumah susun sederhana milik/apartemen subsidi) itu kan penjualannya sudah banyak melalui agen properti.

 

Memang, tidak semua agen properti mau menyentuh segmen murah itu.

 

Itu mungkin karena nilai komisi yang diterima kecil sementara upayanya sama repot dengan bila mentransaksikan properti segmen atas?

 

Ya, begitulah, ha ha ha.

 

Mereka pilah-pilih harga juga. Sering, untuk transaksi properti murah, agen properti harus  mengejar penjualan dalam jumlah banyak supaya komisi yang didapat bisa signifikan.

 

Terlepas dari itu, sekarang ini, perorangan yang main ke industri agen properti juga cukup banyak. Mereka dalam hal itu bisa berdiri sendiri.

 

Kalangan seperti itulah yang perlu dirangkul.

 

Kadang pun, saya pun ingin merangkul mereka. Agar profesionalitas mereka naik. Sehingga bisa lebih siap saat pasar bebas nanti berlangsung.

 

Saat pasar bebas berlangsung, kita bisa terlibas oleh pihak luar kalau tidak siap.

 

Dan kemarin, saat AREBI mengupayakan sertifikasi broker properti, ya tujuannya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas agen properti itu.

 

Hanya, saya melihat bahwa sering sertifikasi hanya jadi formalitas. Agar mereka mendapatkan SIU-P4.

 

Sebenarnya, pelaku bisnis broker properti mesti sadar bahwa sertifikasi tersebut mesti dilakukan. Bukan sekadar mengejar formalitas.

 

Sebagian orang  menganggap bahwa mentransaksikan properti via broker menimbulkan tambahan biaya. Inikah faktor yang turut menghambat perkembangan industri tersebut?

 

Nah, soal itu juga menjadi perhatian AREBI. Dan juga semestinya broker properti sendiri berperan untuk menghilangkan asumsi tersebut.

 

Sebenarnya, kan, mentraksasikan properti lewat broker itu punya banyak keuntungan. Namun, itu semua juga tergantung ke kualitas broker properti.

 

Kalau broker properti sendiri tidak punya knowledge tinggi tentang properti, dan juga tidak punya pengetahuan bagus tentang pasar-prosedur transaksi properti, ya konsumen tidak merasa mendapatkan keuntungan.

 

Kalau kualitas dan knowledge broker bagus, ya orang akan merasa mendapatkan satu nilai tambah. Serta tidak merasa berat untuk memberikan komisi yang besarnya 2%-3% dari nilai properti, bukan?

 

Dengan broker properti yang berkualitas, kan seseorang menghindari kemungkinan salah beli atau jual properti. Menghindari kerugian besar.

 

Jadi, broker properti harus mengedukasi ke konsumen tentang hal-hal tersebut.

 

Namun di sisi lain, memang orang pun melulu melihat bahwa menggunakan jasa broker itu berarti keluar uang lagi. Mereka kurang melihat value yang diberikan agen properti.

 

Kadang orang kita itu lucu. Ingin transaksi properti senilai miliaran Rupiah, tapi enggan keluar biaya kecil yang seharusnya perlu. Untuk transaksi senilai itu, andai dikenai tarif konsultasi Rp1 juta per jam, mereka sudah enggan.

 

Padahal, kalau salah transaksi, berabe bukan?

 

Itu kelihatannya seperti ada kekurangsadaran dari broker sendiri ataupun konsumen?

 

Begitulah. Dan sekali lagi, itu merupakan kendala yang mesti diatasi AREBI ataupun kalangan broker sendiri.

 

Saya pun menyadari bahwa, terlepas dari hal itu, perkembangan bisnis broker properti sekarang ini luar biasa. Anda bisa melihat sendiri, bahwa, sekarang ini jumlah broker properti di Indonesia sudah puluhan ribu. Sementara, 10 tahun yang lalu, jumlah itu belum seberapa.

 

Itu artinya pengguna jasa broker juga meningkat, bukan?

 

 

Cobalah Anda membaca update status di alamat Facebook milik Tirta. Di situ, terlihat bahwa jadwal bepergian antar-kota Tirta kini terbilang  padat. Tak jarang, dalam seminggu, ia mesti ada di beberapa kota.

 

Itu demi  menjadi pembicara/trainer/motivator para pemasar di berbagai kota. Para pemasar yang disambangi Tirta itu tidak melulu dari sektor properti. Namun  juga dari sektor keuangan, otomotif, dan lain-lain. “Skill pemasaran yang saya punyai kan bisa berlaku untuk semua sektor industri,” kata Tirta.

 

Apa sesungguhnya penyebab Tirta kini juga menjadi public speaker?

 

Anda belakangan juga dikenal sebagai public speaker. Bisakah dikatakan bahwa kini ada perubahan haluan bisnis dari Anda?

 

Ah, Anda tidak bisa mengatakan begitu, ha ha ha. Bisnis utama saya ya tetap di bidang properti. Sebagai public speaker dan motivator itu, malah belakangan ini saya mengurangi instensitasnya.

 

Soal intensitas bisnis saya sebagai agen properti, ini sama sekali tidak saya kurangi.

 

Kalau sekarang saya intensif sebagai public speaker, pertemuan kita ini kan sulit berlangsung, ha ha ha.

 

Sebenarnya, sebagai public speaker, itu karena saya sering diminta oleh berbagai perusahaan untuk menjadi pembicara. Itu setelah kalangan tersebut membaca buku Sales Kaya Sales Miskin karangan saya. Bukan saya yang mengkhususkan diri untuk masuk ke bidang tersebut.

 

Bahkan, saya pun sampai sekarang tidak pernah membentuk tim tersendiri untuk kiprah sebagai public speaker itu.

 

Saat ini, seberapa jauh waktu Anda untuk berkiprah sebagai public speaker?

 

Kini, memang saya banyak berkeliling memenuhi undangan dari banyak pihak. Tapi, itu sebenarnya tidak menyita sebagian besar waktu saya. Saya di situ sebenarnya lebih menjadikan hal itu sebagai cara untuk sharing knowledge tentang pemasaran.

 

Namun, sekali lagi, fokus saya tetap ke bisnis properti.

 

Dari sekian banyak pengalaman sebagai motivator para pemasar dari berbagai sektor industri, kelemahan mendasar apa yang paling Anda lihat?

 

Sebagian mereka menjadi sales karena keterpaksaan. Dan karena terpaksa, mereka tidak siap.

 

Selanjutnya, mereka sering memikirkan hasil terlebih dulu, baru memikirkan action. Ini kan sebenarnya terbalik.

 

Bisa memerjelas hal itu dengan contoh nyata?

 

Mereka masuk ke dunia sales karena terpaksa. Tidak ada pilihan lain. Dan merasa bahwa posisi sebagai sales itu rendah. Untuk kartu nama pun, mereka merasa enggan ditulis sebagai sales.

 

Nah, kalau saya pribadi kan sejak dulu tidak demikian. Saya merasa bahwa kalau tidak ada para sales, para konglomerat sampai sekarang tidak akan ada.

 

Terlepas dari itu, sebenarnya bahkan para konglomerat pun sering menjalankan peran sebagai sales dalam tingkatan tinggi, bukan?

 

Karena semua hal itu, para sales lalu menjalankan peran setengah hati. Ini kan hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

 

Kalau Anda lihat, kini kan top management dari banyak perusahaan, banyak yang punya back ground dari divisi pemasaran.

 

Dan untuk mengubah pola pikir seperti itu, ya menjadi peran penting public speaker seperti Tirta Setiawan, ha ha ha.

 

 

Foto: Dokumentasi Pribadi

 

 

 

 

 

 

Komentar