Perabot kayu terbukti bisa menambah keindahan interior ataupun eksterior hunian Anda. Hunian dapat tampil lebih alamiah berkat perabot kayu—antara lain kursi kayu, meja kayu, lemari kayu, dan lain-lain. Menyerupai hunian masa dulu ketika perabot berbahan lain seperti logam belum ada.
Tapi perabot cantik itu bukan tanpa cacat. Karena seiring dengan bertambahnya usia, perabot kayu tentu bisa lapuk, cacat terkena goresan/benturan, belang oleh bahan kimia, dan lain-lain. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi. Apalagi kalau perabot tersebut nilainya tergolong mahal.
Namun, Anda tidak perlu khawatir. Karena hal itu bisa dicegah dengan membubuhkan finishing kayu ke perabot tersebut. Berkat finishing kayu, perabot kayu tak mudah lapuk, lebih tahan goresan ataupun benturan, lebih tahan terhadap bahan kimia, dan lain-lain.
Kini, marilah kita mengenal lebih jauh finishing kayu, sang pelindung perabot/permukaan kayu tersebut.
1. Ada beberapa bentuk finishing kayu. Pertama, berbentuk cairan. Di pasaran, finishing cair dijual dalam kemasan menyerupai cat tembok.
Karena berbentuk cairan, tipe ini mudah digunakan (disemprotkan) ke bidang lebar ataupun melengkung di perabot kayu. Beberapa jenis finishing tersebut membutuhkan minyak sebagai bahan pencair.
Adapun jenis bahan finishing cair antara lain politur, melamin, polyurethane, dan resin acrylic.
Kedua, berbentuk bahan padat. Finishing jenis ini terdiri dari lembaran atau rol. Finishing bahan padat lebih pas bila diaplikasikan dengan mesin di pabrik. Dan kelemahan finishing padat ini adalah menyembunyikan tekstur kayu di perabot.

2. Finishing cair punya banyak karakter. Ada yang transparan ataupun non-transparan. Yang transparan bersifat bening sehingga tak menutupi keaslian warna perabot kayu. Nah, finishing kayu yang non-transparan punya warna tertentu seperti cokelat. Walau berwarna, ada yang tetap mampu menampilkan tekstur kayu di perabot.
Selain itu, ada berbagai karakter dari tiap finishing cair ini. Ada finishing cair transparan yang secara sempurna menutup pori-pori kayu sehingga kesan eksotik dan mewah di perabot tetap tampil. Kelemahannya, ketika pelapisan ulang hendak dilakukan, lapisan lama perlu diampelas terlebih dulu.
Berbeda dengan itu, ada finishing transparan yang lebih mudah diganti ataupun dilapis ulang. Untuk penggantian ataupun pelapisan ulang, finishing tersebut tak perlu diampelas terlebih dulu. Hanya, finishing ini lebih tipis dan mudah memudar sehingga pelapisan ulang perlu lebih sering dilakukan.
Ada finishing transparan tertentu yang sangat lentur/fleksibel dan tidak kaku. Ketika satu sisi/permukaan perabot kayu terkena benturan sehingga cacat ringan, lapisan finishing tersebut mengikuti perubahan bentuk yang terjadi—lapisan tersebut tidak pecah/retak. Alhasil, sisi/permukaan tersebut tetap terlindungi oleh sang finishing.
Ada juga yang sangat transparan sehingga tekstur kayu di perabot tetap terlihat jelas. Perabot kayu dengan demikian tetap terlihat eksotik sekaligus lebih awet.
Di kelompok finishing cair non-transparan, ada yang bisa menorehkan tekstur sehingga perabot kayu terkesan alami. Namun, warna yang disapukan (cokelat terang, natural, dan gelap) mudah pudar dan menjadi kekuningan sehingga ujung-ujungnya mengurangi keindahan perabot kayu Anda.
Dengan keanekaragaman jenis ataupun karakter finishing kayu, sudah tentu Anda perlu jeli dalam memilih. Semua itu agar perabot kayu di hunian Anda tetap indah sekaligus awet.
Achmad Adhito/berbagai sumber
Foto: doc.net