Jakarta--PropertyKita.com: Selain apartemen dan pusat belanja, gedung perkantoran baru merupakan salah satu bagian properti yang sedikit banyak merubah wajah Jakarta. Kawasan central business district (CBD) tak dipungkiri menjadi bagian eksplorasi pengembangan gedung perkantoran di Jakarta. Walau belakangan kawasan sekitarnya hingga daerah pinggiran Jakarta menjadi sasaran pengembangan gedung pencakar langit ini.
Tingkat hunian di kawasan CBD naik menjadi 93,65 persen pada akhir 2011 sedangkan pada akhir 2010 hanya 88,11 persen. Sedangkan tingkat penyerapan ruang kantor secara keseluruhan meningkat drastis dimana pada 2011 tercatat sebesar 341.361 meter persegi, naik hampir 50 persen dari tahun sebelumnya sebesar 166.011 meter persegi.
Nah, ditengah kinclongnya bisnis ruang perkantoran ternyata ada instrumen bisnis yang patut dicermati. Yakni, bisnis sewa kantor berlayanan atau serviced office. Menurut hitungan atau analisa konsultan properti Knight Frank Indonesia, dalam dua tahun mendatang pasokan virtual office, istilah lain kantor berlayanan, bakal tumbuh 50 persen atau ada tambahan 10.980 meter persegi.
Lokasinya saat ini kebanyakan masih berada di tengah kota Jakarta, kawasan CBD tentunya. Pasokan layanan kantor sewa ini mengalami kenaikan dua kali lipat dari tahun lalu, sebesar 21.696 meter persegi. Sebagai catatan perusahaan kantor virtual office tersebut seperti Regus, CEO Suite, Executive Center, Marquee, Fortice, Nomad Offices, Jakarta Serviced Office, Prestige, dan HQ Global.
Tingkat hunian kantor yang disewa seperti hotel ini ternyata cukup tinggi. Ruang kantor instan ini memiliki pasar tersendiri, seperti di kawasan Kuningan punya tingkat hunian yang tertinggi yakni sekitar 92,3%. Lantas diikuti kantor instan di kawasan Thamrin sekitar 90,7% dan kawasan Sudirman berada di posisi buncit, yakni sebesar 86%.
Dan tentunya kawasan segitiga emas merupakan lokasi yang menjadi pengembangan bisnis ini karena memiliki nilai jual.Mayoritas pebisnis yang menggunakan virtual office adalah mereka yang bergerak dibidang asuransi, keuangan, migas, pertambangan dan teknologi informasi.
Menurut Fakky Hidayat, Senior Associate Director PT Wilson Properti Advisindo (Knight Frank Indonesia), sebagian besar para penyewa adalah ekspatriat. Komposisinya 70 persen asing dan sisanya pebisnis lokal. “Predikat layak investasi Indonesia menjadi faktor pendorong para pebisnis mulai berinvestasi di sini. Sebagian besar memang masih mengarahkan perhatian di Jakarta. Tak heran, bisnis sewa kantor ini masih berada di Ibukota,” imbuh Fakky. mhsyah